Festival Domba Wonosobo dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-193

Dalam rangka meramaikan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-193 pada Tahun 2018, Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan akan menyelenggarakan Festival Domba Wonosobo. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Juli 2018 di Lapangan Kalibeber Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo. Festival Domba Wonosobo ini merupakan sebuah rangkaian acara, yang meliputi :

  1. Kontes Ternak Domba Wonosobo;
  2. Lomba Cukur Bulu Domba;
  3. Lomba Foto;
  4. Temu Peternak Domba;
  5. Pengobatan Ternak dan IB Domba Gratis;
  6. Konsultasi Kesehatan Hewan;
  7. Edukasi untuk Anak : ” Ayo Konsumsi Produk ASUH”

Untuk Pendaftaran dan Informasi, dapat menghubungi :

Sulistyo, S.Pt.

082322075552

Kementan Proritaskan Program Perbenihan Hortikultura dan Perkebunan pada 2018

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) akan memprioritaskan program perbenihan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan pemerintah siap menganggarkan dana sebesar Rp2,1 triliun khusus untuk perbenihan hortikultura dan perkebunan.

“Program itu kita fokuskan pada komoditas strategis yang berorientasi ekspor seperti lada, pala, cengkeh. Maluku itu daerah rempah-rempah, itulah alasan kenapa Belanda datang. Sekarang kita angkat kembali, gali potensi itu,” ujar Amran di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (30/5).

Anggaran sebesar Rp2,1 triliun tersebut nantinya akan dialokasikan untuk memproduksi benih-benih unggul dan diberikan secara gratis kepada petani.

Tercatat, produksi lada pada 2016 mencapai 82.167 ton, naik dari tahun sebelumnya yakni 81.501 ton. Adapun, produksi cengkeh dan pala masing-masing sebesar 139.522 ton dan 29.713 ton, menurun dari tahun sebelumnya 139.641 ton dan 33.711 ton.

Ia mengaku optimis program tersebut akan berhasil mengangkat komoditas strategis orientasi ekspor karena dalam dua tahun pertama. Pemerintah juga berhasil mengangkat produksi tanaman pangan seperti padi dan jagung sebagaimana telah direncanakan.

“Dua tahun lalu, kita fokus pada tanaman pangan, padi dan jagung, kini sudah capai target, tidak impor,” tutur Amran.

Selain fokus pada produksi rempah-rempah, Kementerian Pertanian juga akan memberikan prioritas kepada komoditas bawang putih.

Pada 2015, dengan luas tanam 2.000 hektare (ha), produksi bawang putih sebesar 20.295 ton, meningkat dari tahun sebelumnya 16.893 ton. Kendati ada kenaikan, jumlah tersebut masih sangat jauh dari kebutuhan yang mencapai 500 ribu ton per tahun.

“Rencana kita mungkin 5 sampai 10 tahun ke depan bisa swasembada bawang putih. Tetapi, kalau kami mendapatkan tambahan anggaran pada tahun ini, 2019 sudah bisa swasembada,” terangnya.

Amran menyebutkan pihaknya telah menyampaikan usulan untuk diberikan tambahan alokasi khusus sebesar Rp1 triliun untuk produksi bawang putih.

“Itu buat benih karena benihnya mahal. Kita berdoa saja, ini baru usul. Kita ikut saja tetapi makin cepat makin bagus,” ucapnya.

Amran menargetkan, pada 2019, luas tanam bawang putih akan mencapai 60.000 ha yang tersebar di beberapa titik seperti Temanggung, Jawa Tengah; Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat; Enrekang, Sulawesi Selatan; dan Solok, Sumatra Barat.

Tercatat, Pagu Indikatif Tahun Anggaran 2017 Kementan sebesar Rp23,91 triliun. Adapun, untuk periode 2018, ditargetkan sebesar Rp22,65 triliun. (OL-6)

Bahas Program 2018, Mentan Kumpulkan 500 Kepala Dinas Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) Nasional 2017. Sebanyak 500 kepala dinas (Kadis) pertanian seluruh Indonesia.

Dalam Musrenbangtan itu dibahas rencana anggaran dan rencana kerja Kementerian Pertanian 2018. Salah satunya mengembangkan produksi benih hortikultura dan perkebunan. Total anggaran untuk membiayai program ini sekitar Rp 2,1 triliun.

“Tahun 2018, tidak ada lagi pengadaan benih tapi diubah menjadi produksi benih. Lalu akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat,” ungkap Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (30/05/2017).

Guna mendukung program benih tersebut, Amran akan membangun sejumlah infrastruktur pembenihan. Dia berjanji, akan memaksimalkan anggaran yang dialokasikan APBN pada Kementerian Pertanian.

Dia menambahkan Indonesia telah swasembada beras, sementara tahun ini targetnya swasembada jagung.

“Kita telah tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia berhasil konsumsi beras tanpa impor ini masuk tahun kedua. Ini kerja keras kita semua,” ujarnya.

Sementara itu kegiatan prioritas Kementerian Pertanian difokuskan pada alat dan mesin pertanian, alat pasca panen dan pengolahan hasil, sarana infrastruktur pertanian, produksi benih atau bibit, peningkatan produksi, pengembangan kawasan serta dukungan penyuluhan dan pasar. (hns/hns)

Tahun 2018, Kementan Jalankan Program Diversfikasi Pangan

Guna menurunkan angka konsumsi pada pangan pokok seperti beras hingga terigu, Kementerian Pertanian ( Kementan) menyatakan siap menjalankan program diversifikasi pangan pada 2018 mendatang.

“Mulai 2018 kami mulai gerakkan kembali diversifikasi pangan, selama ini hanya kampanye saja,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi di Gedung Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (24/10/2017).

Agung mengatakan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah memberikan perintah agar diversifikasi pangan bisa dilaksanakan pada 2018 mendatang.

“Ada roadmapnya, kami punya target kira-kira 16 provinsi yang mempunyai potensi pangan lokal dan itu yang akan kami angkat,” kata Agung.

Kemudian, untuk komoditas yang akan dikembangkan diantaranya, sagu, gembili, ganyong, kemudian garut, hingga singkong.

Agung menambahkan, selain mendorong pengembangan komoditas bahan pangan selain beras, pihaknya juga akan mengembangkan dari sisi pengolahan. Sebab selama ini mulai dari petani hingga industri rumahan hanya sebatas produksi dan belum melihat lebih jauh seperti cita rasa, hingga kemasan produk.

“Diversifikasi akan memulai dari pengolahan, artinya mulai dari bentuk olahan seperti apa yang tentu kriterianya ada dua, pertama masalah rasa, yang kedua tentu masalah harga, kami upayakan, inovasi yang kami lalukan mampu pula menenkan biaya produksi,” kata Agung.

Sedangkan dari sisi anggaran, Agung enggan menjelaskan lebih kanjut terkait berapa besaran pagu anggaran yang disiapkan untuk program diversifikasi pangan pada 2018 mendatang.

“Insya Allah tahun depan kami berikan, ini Kementan anggarannya ada tetapi tidak saya sebutkan dahulu,” jelas Agung.

Visi

Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Visi adalah gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan oleh Instansi Pemerintah. Mengacu kepada kondisi yang diharapkan tersebut, maka dirumuskan visi Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Wonosobo , merujuk pada visi Kabupaten Wonosobo:

“TERWUJUDNYA WONOSOBO BERSATU UNTUK MAJU, MANDIRI DAN
SEJAHTERA UNTUK SEMUA

Maju : Adalah semangat dan kerangka berfikir serta bertindak oleh setiap
pribadi dan lembaga penyelenggara pemerintahan daerah dalam
mengatur, melayani, membangun dan memberdayakan masyarakat.
Bersatu juga menjadi semangat dan kerangka berperilaku masyarakat
dalam menyampaiakan “tuntutan” maupun “dukungan” kepada
penyelenggara pemerintahan daerah, dalam rangka meningkatkan
kesejahteraannya. Selain itu, bersatu adalah motivasi masyarakat sipil
dalam memfasilitasi hubungan masyarakat dan pemerintah daerah
serta mengontrol pemerintah daerah dalam menjalankan tugas,
fungsi, hak, wewenang dan kewajibanya. Dengan bersatunya birokrat,
politisi, masyarakat sipil dan masyarakat akan mempercepat
terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dan meningkatkan
rasa kemanusiaan, toleransi dan keharmonisan untuk hidup secara
berdamupingan, sehingga terpelihara situasi ketentraman dan
ketertiban umum di seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo;

Mandiri : adalah suatu kondisi yang mencirikan kemampuan daerah untuk
berdiri dengan kekuatan dan kemampuan sendiri sesuai dengan
semangat otonomi daerah. Ketergantungan bantuan dari Pemerintah
dan Provinsi secara bertahap harus dikurangi. Oleh karena itu, semua
potensi keunggulan daerah, yang dalam struktur pembagian urusan
pemerintahan dikenal dengan urusan pemerintahan pilihan akan
dikelola lebih optimal, sehingga lebih produktif dan kontributif dalam
mengurangi ketergantungan daerah. Untuk itu, produksi dan
produktivitas daerah perlu terus dioptimalkan peningkatanya,
sehingga Wonosobo akan mampu meningkatkan daya saing daerah
dalam kancah percaturan regional, nasional bahkan global;

Sejahtera untuk Semua : tujuan akhir dari penyelenggaran
pemerintahan daerah dimanapun entitasnya adalah untuk
kesejahteraan masyarakat. Namun demikian peningkatan
kesejahteraan tidak boleh hanya dinikmati oleh sekelompok atau
golongan masyarakat tertentu tetapi harus bisa dinikmati oleh
seluruh masyarakat Wonosobo. Oleh karenanya, percepatan
penurunan angka kemiskinan akan terus dioptimalkan
pelaksanaannya. Demikian halnya dengan ketimpangan pendapatan
antar golongan penduduk dan ketimpangan pertumbuhan antar
wilayah akan terus diminimalisasikan, sehingga peningkatan
kesejahteraan yang dicapai oleh pemerintahan 2016 – 2021 akan
dirasakan oleh semua masyarakat disemua wilayah Wonosobo.