LKJIP 2023
Kami mengutamakan prinsip akuntabilitas dan transparansi sebagai landasan dalam penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik. Sejalan dengan komitmen tersebut, kami menyajikan laporan kinerja kami kepada publik. Dengan ini, kami mempersilakan para pemangku kepentingan, mitra kerja, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengunduh Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKJIP) Tahun 2023. LKJIP ini merupakan dokumen resmi yang menyajikan hasil pengukuran dan evaluasi capaian kinerja instansi kami selama periode tahun 2023. Dokumen ini disusun berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan mencakup: Realisasi Sasaran Strategis: Penjelasan mendalam mengenai tingkat pencapaian sasaran dan program kerja yang telah ditetapkan. Efektivitas Penggunaan Anggaran: Analisis akuntabilitas pengelolaan sumber daya yang telah dialokasikan. Evaluasi dan Rekomendasi: Identifikasi tantangan yang dihadapi serta rencana tindak lanjut untuk perbaikan berkelanjutan. Kami berharap LKJIP ini dapat menjadi instrumen informasi yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan, serta menjadi bahan rujukan bagi masyarakat dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja kami. Silakan unduh dokumen lengkap melalui tautan resmi yang tersedia di bawah ini. Klik di Sini
PELATIHAN PEMBUATAN PEMBENAH TANAH PLUS-PLUS
Bertempat di Jl.Mangga No.1,Komplek Taman Makam Pahlawan, Rojoimo Wonosobo, Rabu 11 Juni 2025 dilaksanakan Pelatihan Pembuatan Pembenah Tanah Plus-Plus. Pelatihan ini diikuti oleh petani di 5 kecamatan: Wadaslintang,Kaliwiro,Watumalang,Mojotengah,Kertek dan mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Polbangtan Yogyakarta serta Penyuluh Pertanian Lapangan / PPL.Materi pelatihan disampaikan praktisi pertanian Ir.Eka Mardiana, selain mendapatkan teori, peserta pelatihan juga praktek langsung dalam pembuatan media pembenah tanah ini. Pelatihan ini dimaksudkan untuk mengembalikan tanah yang sehat kaya unsur hara,hemat biaya dan mengimplementasikan Pertanian Berkelanjutan. Pelatihan ini bukan tentang pembuatan pupuk tetapi bagaimana membuat tanah itu kembali subur. Tanah subur bukan hanya sebagai media tumbuh tetapi sebagai sistem hidup yang mengandung mikroorganisme penting yang membantu penyerapan nutrisi.
Penelusuran Penyebab Kematian Ikan "LEMPON"
Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo melalui Bidang Perikanan menindaklanjuti laporan kematian ikan endemik "Lempon" (Tor Soro sp.) di Sungai Serayu dan Sungai Begaluh selama Mei 2025, Bidang Perikanan bersama tim dari BLPKIL Semarang, BKHIT Jawa Tengah, dan Komunitas GO FISHING Wonosobo pada Rabu 4 Juni 2025 turun langsung ke lokasi.Tim melakukan pemantauan kondisi air sungai dan lingkungan sekitar serta mengambil sampel ikan untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian ikan dan menentukan upaya penanganan yang tepat. Dari diagnosa awal, kematian ikan ini disebabkan virus KHV (Koi Herpesvirus).Virus ini biasanya menyerang ikan koi dan ikan mas. Gejala pada ikan diantaranya : Lesi pada kulit dan insang, Peradangan pada mata dan insang, Keluarnya lendir berlebih pada insang, Perubahan perilaku ikan,berenang tidak normal dan kematian ikan yang cepat. Penyebaran virus ini karena kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi, air yang terkontaminasi virus dan peralatan yang tidak disterilkan. Pengobatan yang efektif untuk virus KHV ini belum ada, hanya ada metode untuk mengurangi kematian ikan seperti: Meningkatkan kualitas air, Mengurangi stres pada ikan dan Menggunakan vaksin (jika ada)
Perjanjian Kinerja 2025
Kami percaya bahwa kemajuan sektor pangan, pertanian, dan perikanan di Wonosobo dimulai dari komitmen yang jelas dari pimpinan. Kami dengan bangga membagikan Perjanjian Kinerja (PK) Tahun 2025 Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan. Dokumen ini bukan sekadar administrasi—ini adalah janji kerja nyata yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan kita. Apa yang ada dalam dokumen ini? Target Nyata: Anda dapat melihat secara spesifik berapa target peningkatan produksi pertanian, penguatan ketahanan pangan, dan pengembangan potensi perikanan yang harus kami capai tahun depan. Prioritas Program: Mengetahui program utama mana saja yang akan menjadi fokus anggaran dan sumber daya kami. Tanggung Jawab Penuh: Ini adalah bukti bahwa pimpinan kami bertanggung jawab penuh atas setiap langkah yang diambil untuk memajukan sektor ini. Kami mengajak Anda, khususnya para pelaku usaha dan mitra di lapangan, untuk melihat langsung komitmen ini. Mari kita awasi dan dukung bersama pelaksanaannya! Unduh Perjanjian Kinerja Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Wonosobo Tahun 2025 di sini: 👇 Klik di Sini
Rencana Strategis Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Wonosobo 2021 -2026
Kami berkomitmen penuh untuk memajukan sektor pangan, pertanian, dan perikanan di Kabupaten Wonosobo secara terencana dan berkelanjutan. Komitmen ini tertuang dalam dokumen resmi Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Wonosobo Tahun 2021–2026. Renstra ini merupakan panduan utama kami selama lima tahun, yang menjabarkan visi, misi, tujuan, sasaran strategis, dan program prioritas yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Wonosobo. Mengapa Anda perlu mengunduh dokumen ini? Arah Kebijakan: Memahami prioritas jangka menengah Dinas dalam meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani/nelayan. Dasar Program: Mengetahui program utama dan target yang akan kami laksanakan hingga tahun 2026. Tinjauan Kinerja: Sebagai acuan bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mengawasi pelaksanaan program. Silakan unduh dokumen lengkap Renstra 2021–2026 melalui tautan di bawah ini: Klik di sini
Launching Kebun Belajar Tani
Kebun Belajar Tani resmi diluncurkan pada Selasa, 25 Februari 2025, bertepatan dengan puncak acara Hari Pers Nasional 2025. Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, dalam sambutannya, menegaskan bahwa program ini muncul akibat keprihatinan bersama terkait sektor pertanian yang banyak ditinggalkan generasi muda. Saat ini banyak anak muda yang kurang tertarik bertani karena dianggap kurang menguntungkan. Generasi sekarang ini banyak yang tidak tertarik dengan pertanian karena merasa tidak ada cuannya. Padahal, kalau tidak ada yang meneruskan, bagaimana masa depan pertanian kita...?. "Hari ini kita launching Kebun Belajar Tani Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Wonosobo. Untuk teman-teman, silakan kalau mau belajar pertanian di sini, gratis. Pemkab bahkan telah merancang Wonosobo sebagai pusat agrobisnis dan pariwisata terkemuka di Jawa Tengah dalam 20 tahun ke depan."Sudah selayaknya kita mengenalkan sektor ini kepada semua kalangan, termasuk anak muda. Kita harus manfaatkan potensi ini dengan baik," ujarnya. Kebun Belajar Tani nantinya akan menjadi pusat edukasi dan praktik pertanian bagi siswa serta masyarakat umum yang ingin belajar lebih dalam mengenai teknik bercocok tanam dan pengelolaan pertanian modern. Kita perlu mengubah paradigma pendidikan pertanian dari sekadar praktik tradisional menjadi pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Kurikulum harus diperbarui dengan memasukkan teknologi digital (IoT) seperti aplikasi pertanian, drone, dan sensor yang akan membuat proses belajar lebih interaktif dan menarik.
PANEN PADI HASIL SL TEMATIK GAPOKTAN PERMATA
FDD (FARMER FIELD DAY) PANEN PADI HASIL SL TEMATIK Panen Padi perdana hasil tematik Gapoktan Permata, Desa Mungkung, Kalikajar. Panen dihadiri oleh Kepala Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan, Ibu Camat Kalikajar, Kepala Desa Mungkung, perwakilan dari BPS, Kepala dan staff UPTD Bapeluh Wonosobo beserta penyuluh pertanian Kalikajar, dan ketua beserta anggota Gapoktan Permata. Ketua Gapoktan Permata menyampaikan terimakasih kepada Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan atas pelatihan budidaya padi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Menurutnya penerapan sistem ini dapat mengurangi hama padi sebesar 90%. Harapannya sistem tersebut beserta sistem tanam jajar legowo bisa berkelanjutan. Dalam sambutannya Kepala Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan menyampaikan sistem taman padi jarwo (jajar legowo) diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan, karena hasil yang dicapai lebih baik. Beliau juga menekankan kepada petani padi untuk mengurangi pestisida agar dapat memfungsikan kembali rantai makanan yang telah rusak. Hal tersebut bertujuan agar pemangsa alami hama padi hadir kembali untuk membatu petani. Beliau juga berharap agar pengetahuan yang didapat dalam pelatihan budidaya padi ramah lingkungan dan berkelanjutan bisa digetok tularkan kepada petani lain. Dalam acara ini selain panen perdana padi hasil SL tematik, juga diadakan tanya jawab. Dalam tanya jawab tersebut beberapa petani menanyakan hal yang berhubungan dengan pertanian yang dijawab langsung oleh Kepala Dispaperkan dan penyuluh pertanian Kalikajar. Dalam hal ini, Ibu Camat Kalikajar menyampaikan rasa senangnya atas antusiasme petani dalam acara tanya jawab tersebut. Beliau berharap agar acara sharing ilmu seperti ini bisa berluang dan berkelanjutan di kemudian hari untuk menambah pengetahuan petani. Sistem tanam jajar legowo adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong. Istilah Legowo di ambil dari bahasa jawa, yaitu berasal dari kata ”lego” berarti luas dan ”dowo” berarti memanjang. Satu unit legowo adalah baris tanaman yang terdiri (dua atau lebih) dan satu baris kosong. Jika terdapat dua baris tanam per unit legowo disebut legowo 2:1. Dan jika terdapat empat baris tanam per unit legowo maka disebut legowo 4:1, dan seterusnya. Dengan menggunakan jajar legowo 2:1, populasinya meningkat sekitar 33%. Jika pola konvensional hanya menghasilkan populasi tanam 160.000 rumpun/ha, maka untuksistem tanam legowo 2:1 mampu menghasilkan populasi tanaman 213.300 rumpun per ha.Untuk jajar legowo 4:1, tergantung tipenya (tipe 1 dan tipe 2). Sistem tanam legowo 4:1 tipe 1, seluruh baris mendapat tanaman sisipan. Kalau disisipkan semua, kenaikan populasinya sebesar 60% dibanding pola konvensional (25 x 25 cm). Sedangkan legowo 4:1 tipe 2 yang disisipi hanya tanaman pinggirnya. Yang tengah dua tidak disisipkan. Kenaikan populasinya sebesar 20,44% dibanding pola konvensional.